Jumat, 25 Juni 2010

Dari memberi aku belajar. Dakwah itu memberi.

Dari memberi aku belajar. Dakwah itu memberi.
Itulah tema diskusi kami bertiga pagi itu. Dimulai dari ocehanku tentang amanah yang tak kunjung habis, tentang tenaga yang kadang turun naik, tentang teman2 teman aktivis yang tak jua menyerah. Subhanallah. Pada akhirnya aku sampai pda kesimpulan bahwa ini pun sodaqoh kami.

Ya perjuangan ini adalah sodaqoh kami, infaq kami, yang kami yakini kebenaran janji_Nya atas orang yang bersedakah; 10 kali lipat bagi setiap 1 yang kami ikhlaskan. Subhanallah…..

Sering aku membaca kisah tentang shodaqoh, yang paling membuatku berkesan adalah kisah Ali r.a. yang potang panting mencarikan fatimah sang istri yang sedang ngidam delima. Di pasar ini tak ada, di pasar situ tak ada di pasar mana-mana tak ada… hingga Ali menemukannya di suatu pasar yang sangat jauh dan itupun Cuma SATU!. Dibawalah pulang delima tersebut dengan membayangkan binar senyum sang istri tercinta. Namun ditengah jalan Ali di cegat oleh seorang pengemis yang meminta buah delimanya yang satu-satunya itu. Akhirnya TANPA PIKIR PANJANG Ali memberikannya kepada pengemis tersebut.

Sesampai dirumah Ali menjelaskan ihwal delima tersebut kepada sang istri, beruntung fatimah adalah wanita yang tinggi izzahnya, sehingga dengan ikhlas seraya mendaratkan egonya ia mengikhlaskan delima tersebut. Hingga beberapa saat setelah itu pintu rumah diketuk. Seorang lelaki dibalik pintu ternyata. Kemudian lelaki tersebut berkata wahai Ali ini adalah milikmu (seraya menyerahkan 9 buah delima), namun Ali ragu, sambil menghitung jumlahnya Ali berkata “bukan ini pasti bukan milikku” namun si lelaki asing tetap ngotot bahwa sembilan delima itu adalah milik Ali, demikian pula Ali tetap bersikukuh tidak mau menerimanya. Hingga si lelaki asing bertanya “apakah yang membuatmu tidak mau menerima pemberian in?”. Ali menjawab “karena milikku pastilah sepuluh delima” lelaki itu kembali menjawab “ tetapi ini hanya sembilan” Ali menjawab “pasti ada sepuluh”. Akhirnya si lelaki menyerah dan mengambil satu buah delim dari sakunya seraya berkata kepada Ali “kau benar ada sepuluh delima yang seharusnya kau terima, tapi apa yang membuatmu begitu yakin?”. Ali menjawab “karena Allah telah berjanji untuk setiap shodaqoh yang ikhlas akan di balas sepuluh kali lipatnya”………
Subhanallah………..
Saking terkesannya dengan kisah itu, aku pernah mencoba bersedekah 1o ribu rupiah, hmmm pasti balasannya menggiurkan untuk ukuran anak kos seperti aku, 100 ribu gitu loh. Hingga beberapa hari kemudian aku menungu-nunggu….. berbulan….bertahun… tak lagi kuingat, karena kemudian aku mendapat materi liqo, ikhlas itu seperti pergi kebelakang yang tak kau cari lagi setelah kau buang….

Namun baru ku menyadari, Allah Yang Maha baik, Yang Maha tau, yang mana yang paling baik bagiku. Sering ketika berjalan sendririan atau naik motor aku hampir celaka. Dan celakanya, aku baru sadar beberapa waktu lalu, jangan-jangan balasan seratus ribuku itu adalah dalam bentuk nafas yang masih ku hirup hari ini, bisa jadi sepulang kuliah tadi aku tertabrak dan tak selamat, atau dalam bentuk kemudahan-kemudahan lainnya seperti selalu dapat menyelesaikan tugas, selalu masih bisa makan teratur….

Allah…. Ampuni hamba…. Allah tau kalau memberiku uang 100 ribu aku tak kan tahan dengannya dalam waktu yang lama, maka Ia memberiku dalam bentuk lain, subhanallah…. Kerennya…..

Lain lagi cerita akhwat sebelahku, ia merasa begitu kesulitan dengan kuliahnya tahun ini, selain karena dia transferan dari universitas lain, dia harus bisa adaptasi dengan lingkungan baru dan tugas yang melebihi dosis minum obat sakit tipes.

Akhir-akhir ini dia merasa tak ada pelindung, “tabunganku sudah habis” katanya. Sepertinya tugas2 yang ia terima begitu susahnya dan menyita waktu. Dulu di kampusnya yg lama dia adalah aktivis yang kemana2 agenda dakwah dibawa, asumsinya dia bershodaqoh dengan amalan2 dakwahnya (pelayanan kepada Allah). Namun ketika masa2 transfer yang sangat menyita waktu, dan akhirnya dia malah sempat vakum dari dakwah beberapa bulan ia merasa tak mempunyai cukup “tabungan” untuk mempermudah urusan2nya…. “dulu tugas ngebut semalam jadi dan niali pun tak pernah mengecewakan, padahal amanah lagi gila-gilanya ehm, maksudnya lagi numpuk-numpuknya kaya cucian gitu” Akhwat itu meneruskan. Subhanallah ini adalah bentuk lain shodaqoh.

Dan benar saja memang aktivis dakwah selama yang ku tahu, sering sekali mempunyai agenda dakwah yang bentrok dengan akademiknya. Namun selalu saja turun pertolongan,. Dari mulai IJIN UAS UNTUK IKUT MUKTAMAR KELUAR JAWA hingga IJIN PRAKTEK SHOLAT DHUHA UNTUK IKUT DM3!!!, dari semula seperti akan sulit untuk meminta ijin kepada dosen yang bersangkutan, ia dengan segenap kepercayaan diri bahwa siapa yang menolong Allah, Allah akan menolongnya… and she made it!!!!

Aku sendiri selalu berusaha untuk menanamkan dalam hatiku bahwa secapek-capeknya dakwah ini, sesakit-sakitnya perjuangan ini, sejenuh-jenuhnya amal ini, kesemuanya hanyalah kembali kepadaku saja. Bisa jadi kerja kerasku ini adalah tabungan amal kebaikan ku di akhirat nanti, karena Allah tau, betapa banyak amalan buruk yang akan membuatku rugi kelak di akhirat… atau ini untuk meringankan kehidupanku didunia dengan mendapatkan banyak kemudahan yang non materi. Kadang pada suatu perjalanan aku membayangkan, mungkin ketika aku berhenti berdakwah maka selesai pula umurku, selesai pula kesehatanku…. Allah itu Bijaksana sekali yah… subhanallah jadi makin cinta sama Allah… T_T (terharu..).

Ya sudahlah, ku lupakan saja akhirnya shodaqoh 10 ribuku beberapa tahun lalu itu. Kukembalikan pada asalnya, bahwa Allah Yang paling tau mana yang paling baik bagiku, dan aku percaya dari sekian banyak penglihatan tentang hasil dakwah kami di dunia ini –yang kemudian kami namai ‘berhasil’ dan ‘kurang berhasil’ bahkan ‘tidak berhasil’ itu- aku hanya percaya tak ada yang sia-sia meski sebesar tai lalat kutu!!! (emang kutu punya tai lalat??)

…. Hingga akhirnya lantunan doa tak ada putusnya menjadi hiburanku dan kekuatanku.
“ya Muqollibal Quluub, tsabbit qobiy ‘alaa diinik” “ya Allah Yang Maha membolak balik hati, tetapkan hati kami atas agamaMu”…. Aminnnnn. video

Jumat, 18 Juni 2010

kaya vs miskin? mana yang bisa menjadi lebih berarti


Menakjubkan kehidupan manusia berjalan…. Dengan segala takdir dan jalan hidupnya, masing2 manusia mempunyai ceritanya sendiri. Kisah yang selalu saja menakjubkan kendati tidak di-novel-kan sperti masa kecil andrea hirata yang kemudian menjadi booming dan menginspirasi banyak orang.

Kisah seseorang dengan seseorang lainnya membuat hidup begitu misteri untuk ditebak dan diraba. Manusia hanya tau jika malam telah berlalu maka pagi mengantar tawaran untuk hidup yang baru, jika hari mulai tua malam menawarkan menu penutup hari itu.

Kontrakan kami dihuni 18 orang dengan latar belakang yang berbeda2 satu sama lain, tak ada yang persis sama kendati ada yang sedikit mirip. Tak semua dari kami beruntung seperti saya yang masih mempunyai dua orang tua yang lengkap (menurut saya, saya beruntung. Ada yang putri dari seorang PNS, ada yang ber-ibu penjual nasi, ada yang wiraswastawan dan lain-lain.

Ada yang dari Fisip, Fkip, Fe, Fs. Ada yang cokelat warna kulitnya, ada yang kuning langsat. Ada yang kuliah saja, ada yang sambil bekerja. Harmoni ini saya rasakan disetiap hari aktivitas saudara2 sekontrakan saya (mereka bukan sekedar teman kontrakan, lebih dari itu merekalah saudara saya).

Tempo hari saya leyeh2 di kamar sambil membaca dan menemani salah seorang saudara yang pinjam computer. Kami berdua kalau sudah ketemu memang tak bisa tahan diam. Akhirnya saya membuka percakapan.

“menakjubkan adek itu ya, dia itu seperti benar2 berjuang sendiri, bayangkan ia cuma punya seorang ibu yang berjualan nasi, kakaknya yang lelaki sedang sakit, kakaknya yang perempuan belum lulus kuliah, adeknya masih SMA dan diasendiri sekarang ambil cuti untuk bekerja, mengumpulkan koin demi koin untuk membayar SPPnya semester depan bahkan untuk dikirim ke ibunya…”

Masih saya lanjutkan dengan kisah lainnya “sama2 menakjubkan si dia adek yang lain, orang tuanya sih masih lengkap, bahkan dengar2 penghasilan satu bulannya masih jutaan, tapi… katanya terbelit rentenir, dan karenanya adek itu harus kuliah sambil bekerja juga, ketika dia pulang uang itu pun akan diberikannya pada ibunya, belum lagi pekerjaan rumah yang harus ia kerjakan kalau sedang pulang, merawat adeknya yang masih umur 3 tahun, sedang adeknya yang (harusnya) SMA itu cuma tau tidur saja”

Masih saya lanjutkan “lihat aku bu… kurang apa hidupku dikontrakan ini? Computer ada, motor punya, uang saku takperlu pusing memikirkan, kendati tidak banyak tapi aku tak harus sesak setiap bulan karena memikirkan akan kirim uang apa ayahku disana, betapa malunya aku bu, aku hanya begini2 saja, tidak berprestasi, tidak pintar, IP biasa saja walau juga tidak jelek sekali, masihlah diatas rata2, hanya saja aku biasa saja untuk ukuran mahasiswa yang beruntung yang kubilang di awal tadi”

Tema malam itu memang “keberuntungan hidup manusia”. Kemudian saudara saya yang sedari tadi diam mendengarkan ocehan saya akhirnya berkata juga “aku juga beruntung bu, kendati aku sudah tak punya ayah, tapi aku berkecukupan, aku juga masih bisa begini begitu, punya hape dan lain-lain”, saya tak sabar menyahut “iya bu, tapi tetap aku merasa aku masih lebih beruntung dari anti, lihat aku bu, aku malu sama anti…”. Saya pernah berkunjung kerumah saudara saya ini, dan memang kalau keberuntungan saya definisikan sebagai keadaan sperti saya dan orang lain yang mungkin lebih kaya orang tuanya maka dia kurang beruntung menurut saya.

Ini soal ujian hidup. Saya kemudian bertanya2 sambil tetap terkagum2, adek2 kontrakan yang saya ceritakan diatas, saudara saya yang saya bicarai itu juga adalah manusia2 hebat. Bagaimana tidak, di hidupnya yang menurut saya tidak lebih beruntung dari saya, diusia mereka yang masih muda ini, di masa2 yang mereka hadapi, saya jadi berpikir jika itu saya maka mungkin saya tak akan dapat bertahan di posisi itu. Saya mungkin sudah kalah duluan, mereka itu keren dan luar biasa menurut saya, dengan ujian (financial) seperti itu masih bisa memberi banyak dalam hidupnya. Mereka bahkan berani mendedikasikan hidupnya dijalan dakwah ini. Mereka bukan mahasiswa biasa, mereka bekerja sambil kuliah dan berdakwah, itu adalah predikat yang …luar biasa,,, sampai2 saya tidak bisa mengucapkan kata ini dengan nada biasa.

Saya jadi membandingkan dengan kehidupan saya yang menurut saya beruntung ini. Wallahua’lam tiba2 saya jadi bersedih, saya bilang pada saudara saya itu kalalu saya “minder… malu sama kalian, sepertinya aku ini tidak berguna sekali menajadi manusia, menjadi anak sholihah saja tidak bisa, buktinya sampai sekarang saja aku tidak punya prestasi yang betul2 gemilang, yang bisa buat ayah ibu bangga. aku ga punya ujian berarti dalam hidupku yang bisa membuatku kuat seperti kalian, yang bisa membuatku juga luar biasa seperti kalian. Apalah aku ini…”

“yo gak ngunu bu…anti yo di uji lah, masing2 manusia ki duwe ujiane dewe-dewe. Ujiane ente ki yo… keberuntungan yang dari tadi disebut2 itu”

“trus gini, kalu orang yang kubilang kurang beruntung itu menghadapi ujiannya dengan bertahan sekuat tenaga, dengan segala kekuatannya dengan segala azzamnya dengan segala potensinya. Trus aku cara bertahannya gimana kalu memang aku adalah orang yang diuji dengan keberuntungan”

“ya sama, caranya bertahan juga. Bertahan dalam kebenaran, bertahan untuk menjadi orang yang baik, bertahan untuk selalu memberi apa yang dipunya… kalau memang lebih ya diberikan…kan gitu…”

“hemmmhh….”

Lalu sepi…

saya memutar kembali memori-memori yang berserakan di otak saya. Rasanya, memang saya keterlaluan jika lupa bersyukur. Kendati masih sering bokek sebelum akhir bulan, kendati juga bukan mahasiswa anak orang tajir yang bias foya2 seenak udelnya sendiri, saya masihlah lebih beruntung dari yang lain. Ini soal duniawi tentu. Kebahagiaan hati saya belum bias menjamin menjadi orang yang paling beruntung dalam hal ini, tetapi setidaknya, saya merasa sangaaaat kaya dengan berkumpul bersama orang2 tercinta di kontrakan ini. Rumah lawas yang member berjuta-juta arti persaudaraan dan kebahagiaan berbagi cinta, senyum, tangis, marah, apapun.

Malam itu lewat obrolan ngalor ngidul di salsabila, saya belajar lagi tentang sesuatu. Sesuatu yang tak mungkin saya dapat di kelas Adminstrasi Negara saya.

Betapa kayanya saya, betap kayanya adek tingkat saya dan juga teman saya itu. Anda? Mau kaya juga? Yuk mari bergabung dengan kami… hehe itu juga kalu masih ada kamar yang kosong heee

Jerawat akhwat waaa


Malam itu, gemintang mulai menggeliat, memancarkan anugerah indah sinarmya hingga ke halaman kontrakan kami. Maghrib lagi. Moment itu berulang kembali. Kami senang kendati ini terjadi setiap hari. Kami tak pernah bosan untuk ngobrolin hari2 kami, untuk cuap-cuap ngalor ngidul ga keruan, tapi sarat pelajaran.

Seusai shalat maghrib berjamaah, kemudian kami hembuskan bait-bait dzikir dan syukur padaNya Dzat Maha cinta.... setelah rawatib, biasanya member salsabila akan menculat ke kamar masing2 atau berkumpul diruang tamu untuk “lomba tilawah”. Tapi tidak malam itu. Ada seorang penghuni yang mendobrak “adat” yang telah berlaku sekian lamanya.

Seusai shalat, bukannya dzikir, salah seorang jamaah malah ambil kaca kecil yang terselip di dompetnya. Kontan saja sebelahnya ketawa ketiwi melihat tingkah lakunya yang serius geli geli gimana gitu. Mengalirlah obrolan kami...
“ngapain sih, brisik ketiwi ketawa??” (saya jadi penasaran karena masbuk dan ketinggalan moment itu)
“ini lho, bis sholat langsung ngaca”
“ada-ada ajah,”
“hehehehehehehe” kami tertawa bersama karena mimik malu sodara kami yang ketangkap basah itu.

Obrolan mengalir, “eh masih inget ga, foto2 kita yang di FD yang ilang ituh?”, salah seorang akhwat mengingatkan si pelaku. “iya ingat, masyaallah, itu kan serem banget, gara-gara kebagusan kameranya jadinya jerawat kita keliatan jelas gitu kan” sambut pelaku.
“iya serem...” sambut saya bercanda.
“makanya, kita kalo foto pake kamera jelek ajah, biar ga keliatan jerawatnya”
“hahahahaha....” langsung disambut geerrrr... semua yang ada disitu.
Salah satu dari kami kemudian nyeletuk, “tapi foto kamu yang pake hapeku trus di edit ndiri bagus tuh”, “iyah, malah kaya bukan kamu...” he-eh” yang lain setuju
“iya bagusan itu yah, apa kubilang, kalo poto pake kamera jelek ajah..” heheheheh” yang lain tertawa lagi.

Kemudian sepi, karena ada yang nyeletuk “tapi, itu artinya kamu ga jadi dirimu sendiri ukh....” ....krik...krik... “iya”, “he-eh”, “iaya yah...” yang lain termasuk si pelaku sepakat “iya sih, jadinya aku ga bangga sama aku sendiri...hehehe”

Lalu ada yang iseng nanya “dijaman Rosulullah, ada jerawat ga yah....” dan seterusnya ngobrol jadi makin seru...

Adalah fenomena psikologis manusia. Manusia sudah fitrahnya dianugerahi dengan rasa senang terhadap kecantikan, bahkan kebanggaan bila ia sendiri menjadi hal yang cantik (menurut kacamata lingkungan dia berada). Saya pernah punya teman, blum berjilbab dia, tapi yang membuat saya terheran2 adalah betapa konsennya dia dengan penampilannya. Rasa2nya dulu ketika masih maba kulitnya sawo matang (banget). Tapi kini di semester hampir akhir keadaannya jauh berbeda. Selain sudah bisa dandan dengan pakaian yang juga selalu matching dan tepat jaman, kini kulitnya tampak lebih putih, tapi –menurut temen2 yang lain- tidak segar atau tidak aseli. Apapun itu kita tidak sedang ghibah disini, toh saya gag sebut merek. Tapi fenomena yang timbul membuat saya ingin berbagi dengan yang lain. Belum lagi kalo dia tumbuh jerawat karena gag cocok dengan bedak yang dia dapatkan pada salon (mahal) langganannya, ke dokter spesialis-pun dia jalani, perawatan yang konon jutaan-pun dia jabanin, maklum anak orang kaya.

The point is... people like to be beautiful, kebanyakan orang terutama wanita pada masa kini telah dengan rela menjadi korban iklan. Mulai dari pemutih gigi, pemutih pakaian hingga pemutih wajah, bahkan krim mata ada sendiri, buat pipi ada lagi, blum juga produk pelangsing tubuh. Gelap rasanya melihat masa depan remaja putri masa kini kalo saya lagi mantengin Tivi, iklannya begitu semua, terasa begitu “mendikte” paradigma para perempuan bahwa cantik itu putih... ck..ck.... bahkan sodara saya banyak yang jadi korban, perasaan udah berapa taun pakai produk itu juga tetep gag nambah putih, yang ada malah jerawat dan bahkan pada beberapa orang efek stadium tinggi bisa bikin kulit makin gelap. Rusak.

Indonesia, kadang menurut saya begitu lebay dan ketinggalan tren. Padahal di Barat sana, tempat perusahaan itu berpusat, beberapa kosmetik sudah mulai di sediakan dalam porsinya untuk wanita berkulit gelap...just... Indonesian emang lebay dan terlalu mengada-ada, buat para wanita, whoever you’re, i just wanna say... you’re beautiful no matter what they say.... kulit gelap ato putih ato kuning, ijo sekalipun (kalu ada) menjadi dirimu adalah yang terbaik.

Kalimat “kesan pada pertemuan pertama” memang terkadang mempengaruhi psokologis kita, dan ini-pun menjadi modal utama kita jualan dakwah ini. Tapi you have not to be ‘beauty’ to do the best. Saya punya teman yang tidak terlalu cantik (dalam penilaian duniawi orang2) tapi dia adalah gudangnya senyum. Dia Cuma punya SMILE yang tulus dan akhlaq yang baik. Pakaiannya tak banyak yang bagus dan mahal, tapi dia selalu tampil rapi dengan hanya menyetrika dan pandai mempadu padankan warna atasan dan bawahan, look at her, dia selalu bisa menghidupkan arena dakwahnya, she got it, dia dapat maba banyak, dia gemilang di Rohisnya....

Yang akhirnya disepakati dalam forum yang mendobrak adat pada kontrakan kami malam itu di akhiri dengan kebijakan hati sodara2 saya bahwa, menjadi diri sendiri dengan ikhlas adalah yang terbaik. Kami mulai mencoba evaluasi.
Apa yang bikin gag pede,
“jerawat!”
oke lalu apa yang bikin ga pedenya ilang
“ga jerawatan! Hihihi…”,
“oke, kalu gitu perawatan ya buw... gag perlu mahal, emang kulit kita beda2, ibu bapak kita ajah gag da yang sama, si dia mungkin ga pembersihan seharian ga masalah, kamu beda jeng...”
“terus,...”
“makanya jangan males pembersihan, kita ga harus mahal buat tampil baik, toh ini juga bukan Cuma buat kita, orang yang ngeliat kita juga bakalnya jadi senang kalu kita ‘cantik’, pembersih dan penyegar viva itu murah ko, asal rutin kamu bakal nemuin hasilnya, ato kalu gag mau ribet beli aja sabun cuci muka, oia produk murah dan warisan leluhur kita ada juga”
“oia??, pa’an tuh”
“masker beras, yang asli bisa kamu dapetin di pasar di penjual bunga buat nyekar itu lho”
“oh ada yah”
“iya buat cewe ato cowo, dulu guruku Biologi pas SMA pernah ngebuktiin khasiatnya, coba aja deh asalkan rutin...”
“okeeeee” jawab kami serentak....
Be beautiful gals... tapi kalopun jerawat tetap muncul kita ga harus ga pede kan...
“iyaaaaaa....”
Dan Malam itu jadi ceria lagi.... :D

Kamis, 17 Juni 2010

episode biru

bayangkan, bahkan aku sendiri tak bisa membayangkan. sejak kepergianku saat itu. aku tau ibu sangat rindu padaku. dan mungkin sering menangisi aku. tapi aku? hanya bisa membuatnya menangis. rindu itu. hanya berakhir dengan titik.

terakhir aku pulang ke rumah. sumpek. tema dari semuanya adalah pernikahan adikku. bukan aku tak rela ia mendahului. tapi kenapa wajah2 itu berubah menjadi wajah kasian ketika menatapku. what i have done? tidak ada yang salah dengan pernikahan adikku. aku punya target kehidupanku sendiri. hidupku ku atur sendiri. tapi ayah berusaha untuk segera mencarikanku. ibu pun menjadi sedih karnanya.

sungguh perpisahan bertahun2 dengan orang tua masih ingin ku tebus dengan pengabdian seorang baligh pada orang tuanya. aku masih ingin membersamai ayah dan ibu. salahkah?

lebih dari itu kejadian di rumah membuatku muntap. lebih baik kembali ke kampus. mungkin akan lebih baik, kendati kondisi ayah dan ibu yang sakit2an membuatku tetap tak tega kembali ke kampus. tapi aku harus kembali.

dibonceng ibu ke terminal. kami terpenjara diam. aku tau ibu dia2 mengusap air matanya. dan aku? melakukan hal yang sama. sampai naik bis, tak kuasa kupandang wajahnya. hingga aku cuma bisa mencium tangannya dan hilang ditelan kursi bis...

hingga kini aku belum bicara lagi dengannya. mengapa ibu tak menelponku?

aku yang salah. aku tau itu.

akhir2 ini biru....